Showing posts with label Review Film Korea. Show all posts
Showing posts with label Review Film Korea. Show all posts

Drama RADIO ROMANCE

Meskipun dianggap sebagai serial TV yang gagal menarik pangsa di Korea Selatan, namun Radio Romance termasuk drama yang populer di Indonesia. Film ini tersaji dalam 16 episode drama sederhana, yang menceritakan tentang seorang penulis radio bernama Song Geu Rim. Sedari kecil ia telah mencita-citakan menjadi penulis naskah drama di radio, meskipun tidak benar-benar memiliki bakat di dalamnya.

Cita-cita tersebut diambilnya karena sang ibu yang tuna netra sangat terhibur ketika mendengarkan drama radio. Namun, ia hanya bisa menjadi asisten penulis selama 5 tahun. Ketika salah satu proyeknya akan dibatalkan, ia berusaha menjadi penulis untuk seorang aktor ternama bernama Ji Soo-ho. Dan dari kontrak tersebut akhirnya muncul kisah romantis yang tidak pernah terduga sebelumnya.

Review Film Korea Hyung / My Annoying Brother (2016) : Drama Keluarga Wajib Nonton

Sebelum gue nulis review tentang film ini, rasanya gak sah kalo gak fangirlingan dulu haha. Yap! Di film ini ada dua lelaki tampan dari dua generasi yang fans nya buanyak banget di luaran sana. Dan di antara dua lelaki ini, nampaknya gue semakin jatuh cinta sama ahjussi tampan Jo Jung Suk. Jo Jung Suk di film ini sukses meranin karakter muka preman tapi hati Hello Kitty yang awalnya nampak antagonis namun berhasil bikin penonton simpati di akhir cerita.


'Hyung' menceritakan pertemuan kembali antara dua kakak adik, Go Doo Young (Do Kyung Soo) dan Go Doo Sik (Jo Jung Suk) setelah terpisah selama 10 tahun. Go Doo Young terpaksa harus melepaskan karirnya sebagai atlet Judo nasional karena matanya yang menjadi buta pasca kecelakaan saat bertanding. Mendengar kabar adiknya yang kini tengah nestapa seorang diri, Go Doo Sik yang sedang mendekam di penjara karena kasus penipuan, akhirnya merasa seperti menemukan titik terang untuk segera keluar dari jeruji besi.




Dengan air mata buaya dan alasan kedua orang tuanya sudah meninggal dan tak ada yang bisa menjaga sang adik, Doo Sik pun berhasil bebas bersyarat dan menghirup udara bebas. Dengan santai Doo Sik si preman berpakaian necis bak chaebol ini pun pulang ke rumah tempat dia pernah tinggal dulu bersama keluarganya. Ya, Doo Sik sudah lama tidak pulang setelah kabur dari rumah hingga akhirnya terjerat di dunia kriminal.



Saat masuk ke dalam rumah, Doo Sik mendapati adiknya dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Ia tak dapat melihat dan hanya mengurung diri di dalam kamar. Sehari-hari, Doo Young hanya makan ramyun instan dan rumahnya pun sangat berantakan. Doo Young sangat putus asa dan hilang arah dalam menjalani hidup. Sesekali, Doo Young dijenguk oleh pelatihnya, Soo Hyun (Park Shin Hye). Soo Hyun selalu berusaha buat menghibur dan mengembalikan semangat hidup Doo Young, tapi rasanya usahanya itu belum membuahkan hasil.



Hubungan antara kakak adik ini ternyata nggak begitu baik. Setelah Doo Sik kabur dari rumah, ibu dan ayah mereka sangat menderita hingga akhirnya sakit dan meninggal dunia. Doo Young yang sebatang kara pun harus berjuang menghidupi dirinya sendiri dengan menjadi atlet. Diam-diam rasa rindu pada kakanya yang kabur entah kemana kini bercampur dengan rasa benci. Rasa benci itu kian memuncak saat akhirnya Doo Sik pulang ke rumah dengan keadaan yang kacau, bertempramen tinggi dan selalu marah setiap hari.




Suatu hari, karena membutuhkan uang, Doo Sik yang pemarah berubah jadi sangat baik dan lembut pada Doo Young. Usut punya usust, Doo Sik ingin membeli sebuah mobil mewah dengan memanfaatkan stempel pribadi Doo Young (semacam tanda tangan). Sejak saat itu, hubungan mereka mulai membaik. Doo Sik pun berusaha merawat Doo Young dan membuat semangat hidup dan harga dirinya kembali. 

Karena Doo Sik, Doo Young pun membulatkan tekadnya untuk kembali menjadi atlet dan membuat hyung nya bangga. Malang, saat hubungan dua saudara ini membaik, secara gak sengaja Doo Sik didiagnosa menderita kanker pankreas semester stadium akhir. Lantas, bagaimana dengan Doo Young? Apakah Doo Young berhasil meraih impiannya?


*hati-hati review ini mengandung spoiler*


Review. Jujur awalnya gue ilfil sendiri karena saat gue merasakan kebahagiaan emuncak melihat hubungan yang manis antara kakak adik ini, tiba-tiba aja Doo Sik sekarat gara-gara kanker yang tau-tau udah stadium akhir. Plot nya pasaran banget gak sih? Kenapa si hyung nggak ketabrak mobil terus mati aja sekalian biar emosi yang sudah susah payah di bangun dari awal cerita akhirnya hilang begitu aja ketiup angin? #pyar



Nonton film ini tuh rasanya kayak naik roller coaster. Emosi kita dibikin naik turun-naik turun, tapi uniknya gue menikmati tarik ulur emosi di film ini walaupun plotnya ngeselin bangaaaat #kzlbatgua. Tadinya gue kira ini film komedi, but it turns out to be a melodrama di awal-awal ceritanya. Kemudian, dia berubah menjadi komedi di tengah-tengah cerita, dan berubah lagi jadi melodrama di penghujung cerita. rasanya tuh kayak di php-in gebetan, gimana gak babak belur hati ini, Mas.



Dan, walaupun endingnya sedih banget karena hyung harus meninggal akibat kanker, gue justru ngerasa bahagia karena kehadiran hyung yang brengsek ini berhasil merubah hidup seseorang yang nyaris putus asa karena kehilangan penglihatannya, dalam waktu beberapa bulan saja. Dengan caranya sendiri, dia berhasil mnyelamatkan sang adik dari keterpurukan.

Seburuk apapun hubungan kita dengan kakak atau adik, hubungan darah itu nggak bisa dicuci guys. Mereka akan selalu ada buat menolong dengan ikhlas tanpa ngarep ditraktir bakso atau dipinjemin duit, kapanpun dan bagaimanapun situasinya.





Karakter Doo Sik berhasil jadi center yang oke banget di film ini. Dia adalah sosok hate to love paling gemesin yang pernah gue liat di film Korea. Dia bisa bikin transisi yang halus banget dari seorang mantan narapidana yang pemarah jadi sosok kakak yang perhatian dan melindungi. Kelakuannya gesrek banget, penipu kelas teri dengan senjata andalan air ata buaya. Gue ngakak banget liat tatto di dadanya, tulisannya 'Killing Me Softly' masa xD



Dan Kyung Soo-yaaa, aktingnya makin keren ya. Kece banget ini anak satu. Gue yakin D.O adalah the next big thing di dunia persilatan  perfilman Korea. Rasanya pengen gue karungin dan bawa pulang ke rumah. And then, sorry to say tapi kayaknya peran Park Shin Hye sebagai kochi-nim di film ini rasanya cuma sebagai pemanis aja ya, nggak begitu spesial tapi okelah. Walaupun demikian aku tetap cinta kamu unnie *love*





Overall film ini sangat recommended buat ditonton bareng keluarga. Cukup aman walau ada sedikit segmented scene di tengah film. Sedikit aja kok jadi bisa kamu skip kalo nonton nya sama adik-adik kecil. Jo Jung Suk ahjussi oppa, saranghae.


Score 8,5/10

Review Film Train To Busan (2016) : Permainan Adrenalin yang Emosional

Oke. Di postingan kali ini gue pengen bahas film yang belakangan lagi booming dimana-mana. Yap, Train To Busan. Bisa dibilang ini adalah film zombie pertama dari Asia yang sukses mencuri perhatian penonton global. Penontonnya nggak cuma K-Popers, mereka yang nggak suka K-Pop atau K-Drama pun tertarik nonton. Kabarnya, bahkan film ini jadi buruan para penikmat film di Amerika sana. Sebuah alasan yang cukup menggoda buat nonton film ini, sekalipun kamu nggak suka dengan film bertemakan zombie.


Sinopsis. Seorang anak bernama Soo An (Kim Soo An) adalah korban perceraian yang kini tinggal bersama ayah dan neneknya di Seoul. Ayahnya, Seok Woo (Gong Yoo), adalah seorang pemain saham dengan jadwal super padat dan penuh tekanan. Nggak heran, wataknya pun keras dan sedikit arogan. Soo An sendiri yakin kalo sifat keras ayahnya itulah yang bikin sang ibu akhirnya minggat dan meninggalkan mereka.

Menjelang ulang tahun, Soo An meminta ijin ayahnya untuk pergi ke Busan buat menemui sang ibu. Awalnya Soo An bersikeras buat pergi sendiri, tapi sang nenek berusaha ngebujuk Seok Woo buat pergi nganterin Soo An naik kereta. Jadilah mereka pergi naik kereta cepat menuju Busan.


Bencana dimulai waktu seorang cewek dengan badan lebam dan kaki pincang masuk ke kereta itu. Yep, ini dia bibit zombie yang siap menginfeksi seluruh penumpang. Dimulai dengan menggigit seorang pramugari kereta, hingga akhirnya menyebar ke hampir seluruh gerbong. 

Kereta pun dipenuhi oleh histeria mereka yang panik dan berusaha kabur tanpa tahu persis apa yang sedang terjadi. Perlahan, situasi gawat pun mulai terbaca, kereta itu dipenuhi zombie ganas yang siap menggigit siapa saja. Mereka yang tersisa pun berusaha menyelamatkan diri dengan berbagai strategi, baik itu saling bekerja sama hingga mengorbankan penumpang yang lain.

Tokoh-tokoh pemegang cerita pun muncul, diantaranya Soo An dan Seok Woo, suami dan istrinya yang sedang hamil besar, pasangan SMA, dua nenek bersaudara dan seorang tunawisma yang bisa jadi orang gila. Bersama-sama mereka berusaha menyelamatkan diri dengan 'senjata' seadanya berikut terlibat konflik batin dan emosi yang rumit.

 

Review. Wow. Itulah reaksi gue setelah nonton film ini. Sangat terkesan berikut ngos-ngosan udah kayak orang habis lari marathon, ditambah uraian air mata yang yang bikin stok tisu lumayan terkuras. Kombinasi yang sangat unik dari sebuah film thriller. Mainin adrenalin iya, ngaduk-ngaduk emosi juga iya. Ini film maunya apa sih bikin hati gue cedera aja :(



Gue salut sama pembagian porsi di film ini yang pas banget. Ada tegang-tegangnya, sedihnya, takutnya, dan ditutup dengan perasaan lega waktu akhirnya ada yang selamat di antara mereka. Gak ada tuh adegan-adegan hardcore khas film zombie macam kepala pecah terus isinya meluber kemana-mana atau perut sobek dan daging manusia yang dicabik dan dikunyah. Visual efek nya juga cukup sederhana tapi lumayan oke. Bisa dibilang film ini sangat simpel buat ukuran film zombie, apalagi kalo dibandingin sama film zombie ala Amerika, dimana para tokoh utama justru menikmati rasa takut kala dikejar zombie. Tapi, justru inilah yang jadi kekuatan Train To Busan. Storylinenya kuat, nggak cuma sekedar kejar-kejaran tapi ada 'isinya'.

Alih-alih dibikin ngilu sama adegan gigit-gigitan, gue lebih ngilu liat bumil dengan perut gede lari kenceng banget waktu dikejar zombie. Belum lagi dia loncat, nyaris ketimpa kereta, dan nyaris kena gigit. Sepanjang film gue jadi berdo'a, ya tuhan selamatkanlah ibu hamil itu. Gue nggak peduli dengan ahjussi tamfan gue Gong Yoo karena katanya dia bakal main drama lagi nanti, tapi selamatkanlah ibu hamil itu. Begitulah kira-kira. Gue juga salut sama Kim Soo An yang bisa menghidupkan tokoh Soo An dengan sangat baik. Aktingnya keren :')

Oh ya, tokoh suami si bumil (gue lupa namanya) justru lebih bersinar di film ini dibanding Seok Woo yang merupakan tokoh utama. Di situasi genting begitu, dia masih sempet becandain istrinya walau akhirnya pengorbanan yang dia lakuin nggak main-main. Pesan moral tentang kasih sayang orang tua juga jadi pemanis banget di film ini. Setiap orang tua pasti rela berkorban apapun demi anaknya, bahkan waktu si anak belum lahir ke dunia. Ah sudahlah, gue jadi kangen emak bapak :')



Overall gue sangat ingin merekomendasikan film ini buat siapapun di luar sana. Buat kamu yang nggak suka K-Drama, buruan nonton! Buat kamu yang nggak suka film jombi-jombian, yaelah cepetan nonton! Buat kamu yang masih ragu nerima cinta dari seseorang, cepetan nonton!!!! Buat para pasangan yang lagi butuh film buat ndusel-ndusel ke ketek pasangannya atau bahkan jones sekalian, buruan nonton!!!!! Jadi, gimana nih produser-nim, saya jadi hired buat marketing kan? :p

Score : 9/10

Review Film Pure Love / Unforgettable (2016) : Melodrama yang Melelahkan

Udah lama nih nggak nonton film Korea menye-menye! Gue belum nemu melodrama baru yang berhasil bikin gue nangis sejak terakhir nonton film 'Always'. Nonton melodrama emang harus siap taruhan, antara nangis bombay sampe babak belur atau kecewa karena film yang dilabeli sebagai melodrama ini justru bikin kesel karena nggak ada melo-melonya.


Nah, kali ini gue nonton melodrama yang masih bisa dibilang baru *pembelaan*. Film ini dirilis bulan Februari dan gue baru nonton di bulan Agustus wkwk *kemana aja* Di tengah momen kemerdekaan ini gue masih belum bisa merdeka dari kebiasaan nonton melodrama sambil selimutan sendiri di kamar. Jangan lupa siapin tisu buat ngelap sesuatu, tau aja ntar pas nonton tiba-tiba hujan gede dan kebetulan genteng rumah lagi bocor haha.

Jadi, gue pun udah siap mempertaruhkan hati gue, apakah gue akan sukses dibikin nangis atau justru dibikin kecewa oleh film ini?


Sinopsis. Unforgettable / Pure Love menceritakan sebuah kilas balik oleh seorang penyiar radio bernama Bum Sil. 23 tahun yang lalu, ia menjalani sebuah persahabatan di sebuah perkampungan nelayan. Mereka adalah Soo Ok (Kim So Hyun), Bum Sil (D.O), San Dol (Yeon Joon), Gil Ja (Joo Da Young), dan Gae Deok (David Lee). Empat di antaranya sekolah di luar kota kecuali Soo Ok. Alasannya, karena Soo Ok memiliki kaki yang cacat. Soo Ok harus menyeret salah satu kakinya saat berjalan. Nggak heran temen-temennya selalu rebutan buat menggendong Soo Ok kapanpun mereka bisa.


Suatu hari, Soo Ok menyambut kedatangan empat sahabatnya yang baru saja pulang di liburan musim panas. Di sini kita bisa melihat kalo Bum Sil dan San Dol diam-diam menyukai Soo Ok lebih dari sekedar teman. Tapi, Soo Ok yang polos dan naif nggak pernah sadar walaupun dua bujangan ini udah melempar kode-kode manis bahkan waktu mereka lagi kumpul berlima. 


Kehidupan mereka yang tentram mulai terusik waktu Soo Ok bertemu seorang dokter yang lagi praktek di desa itu. Sang dokter (gue lupa namanya) selalu memberi harapan pada Soo Ok tentang kakinya yang cacat. Dia bilang, kondisi kaki Soo Ok bisa 'diperbaiki' dengan jalan operasi. Akankah Soo Ok berhasil sembuh?

Review. Oke, rasanya agak sulit ya kalo bahas film tanpa spoiler hehe. Maapkan kalo terlalu banyak spoiler di review ini. Tapi gue rasa ini cukup mewakili banyak penonton lain, karena banyak juga review di luar sana yang menyatakan hal yang idem sama kesan yang gue dapet.


Film ini punya plot yang cukup sederhana sekaligus mainstream. Kenapa gue bilang mainstream? Tokoh Soo Ok di film ini punya karakter yang bisa dibilang 'too good to be true'. Soo Ok adalah gadis kampung yang lugu, polos dan naif. Di tengah kondisinya yang tak sempurna, ia selalu berusaha survive dan pantang menyerah. Dia juga digambarkan sebagai sosok sahabat yang setia dan sangat loveable. Karena karakternya itulah, Soo Ok berhasil bikin dua sahabatnya jatuh cinta. Karakter kayak gini emang aman, tapi bisa jadi boomerang kalo eksekusinya nggak bagus. Bukan karena akting Kim Soo Hyun yang nggak bagus, tapi karena plotnya yang boring.



Munculnya kisah cinta segitiga antara Soo Ok, Bum Sil dan San Dol pun nggak begitu penting kalo gue bilang. Alurnya terlalu lama dan bertele-tele ditambah durasinya yang puanjang beneeer sampe 120 menit. Gue sampe skip filmnya beberapa kali, tapi ceritanya masih bisa diikutin walaupun udah gue skip.


Di tengah kebosanan itu, sosok Gil Ja dan Gae Deok lah yang berhasil bikin film ini sedikit 'tertolong'. Karakter Gil Ja dan Gae Deok yang ceria dan bawel berhasil jadi duet maut yang menghidupkan film ini. Ketika peran utama dipegang sama Soo Ok dan Bum Sil, justru Gil Ja lah berhasil bawa momen menye di film ini sampe ke puncak. Endingnya? Silahkan nonton sendiri hehe :)


Secara keseluruhan, bisa dibilang film ini nggak terlalu memenuhi ekspektasi gue buat sebuah film bergenre melodrama. Namun, masih ada nilai-nilai positif yang bisa diambil dari film ini, yaitu mengenai makna persahabatan yang saling menerima dan saling melengkapi di tengah keterbatasan, serta betapa berharganya masa muda kita. Not bad lah buat ditonton di kala gerimis dan nggak bisa cari hiburan ke luar rumah hehe. 

Score 7/10

Review Film Korea The Wailing (2016) : Saat Manusia Lebih Menakutkan dari Setan

Hola chingu! Udah nonton film The Wailing belum? Film horror besutan Na Hong Jin ini lumayan sukses di negara asalnya dan lumayan ngehits juga di Path hehe. Gue sendiri udah lama nggak nemu film horror Koriya sejak nonton The Piper, karena rasanya horror Koriya belakangan ini kurang greget seremnya. But i think this one is worth to watch.



Sinopsis. Film ini menceritakan tentang kasus pembunuhan misterius yang menimpa sebuah keluarga. Seluruh anggota keluarga itu mati secara tragis. Namun salah satu korban kondisinya sangat aneh. Kulit dan tubuhnya membusuk seperti mayat hidup. Kasus ini kemudian ditangani oleh polisi bernama Jong Goo (Kwak Do Won).




Banyak desas desus yang mengiringi kasus ini, mulai dari dugaan wabah penyakit, jamur beracun yang bikin korbannya berhalusinasi, sampai munculnya seorang Pria Jepang mencurigakan yang kabarnya suka memakan daging mentah di hutan. Anehnya, si Pria Jepang ini juga muncul di mimpi Jong Goo dengan mata merah dan cuma pake celana dalam seakan mau menerkam Jong Goo, udah kek tuyul gede deh pokoknya.



Awalnya Jong Goo hanya menganggap mimpinya sebagai bunga tidur, sampe kejadian misterius itu terulang dengan kondisi korban yang tak kalah tragis. Jong Goo pun memutuskan buat menyelidiki si Pria Jepang bersama seorang pendeta langsung ke tempat tinggalnya di hutan terpencil.



Awalnya nggak ada yang salah dengan penyelidikan Jong Goo, sampe suatu hari putrinya tiba-tiba kerasukan setan. Tanpa pikir panjang, Jong Goo pun menuduh si pria Jepang sebagai dalang di balik serangkaian kejadian aneh di desa itu, dan memutuskan buat menghakiminya sendiri dan melupakan tugasnya sebagai polisi.

Review. Film ini cocok banget buat kamu yang suka film horror thriller tanpa penampakan hantu seram macam Valak atau Sadako. Film ini punya plot twist yang cukup unik. Penggambaran tokoh si Pria Jepang dijamin bakal bikin kamu setuju kalo dialah penjahatnya. Tapi, seiring film berjalan, penonton pun bakal dibikin menebak-nebak apa yang sebenernya terjadi di antara wabah misterius, si Pria Jepang dan si petugas polisi.



Walaupun mainstream, tapi gue suka dengan pembangunan nuansa creepy di film ini. Si Pria Jepang nih, mukanya nggak serem-serem amat tapi liat dia bawaanya pengen kabur aja haha xD 

Film ini cukup menghibur dan bagus banget buat ditonton sambil ndusel-ndusel sama pacar muehehe. Cuman durasinya agak kelamaan, nontonnya musti sabar. Pesan moralnya cukup bagus, kita nggak boleh menghakimi seseorang hanya dari satu sisi dan prasangka buruk cuma bakal jadi boomerang yang mencelakakan.

Score 8/10

Review Film Korea Socialphobia / 소셜포비아 (2015) : Ketika Gadget Lebih Tajam Dari Pedang

Kalo jaman dulu ada pribahasa ‘Mulutmu Harimaumu’, di era digital sekarang ini mungkin ‘Gadgetmu Harimaumu’ kayaknya lebih tepat ya. Kenapa? Karena di era serba socmed kayak sekarang, hanya dengan menggerakkan jari kita bisa bebas memposting apapun pendapat kita di internet, bahkan makian dan kata-kata kasar. Gak sedikit orang yang lupa kalau apapun tulisan mereka bisa dengan bebas juga dilihat oleh orang lain, lalu jadi boomerang buat sang penulis status. Mungkin itulah pesan yang ingin disampaikan oleh ‘Socialphobia’.


Film ini mengangkat isu yang lagi heiiiiittz banget seputar masyarakat yang kecanduan gadget dan internet. Semua orang bebas melakukan apapun dengan akun socmed mereka dan bikin hal yang sebenernya gak penting jadi penting. Bahkan sebuah isu kecil pun bisa bikin nyawa seseorang melayang, hanya karena tulisan di social media. Masih inget kasus yang sempet heboh banget di Path tentang cewek yang ngata-ngatain ibu hamil? *gue lupa namanya* Tuh orang sekarang apa kabar ya?


Sinopsis. Ji Woong (Byun Yo Han) dan Young Min (Lee Joo Sung), adalah siswa sekolah polisi yang hobi banget main twitter dan gak bisa lepas dari gadget mereka. Mereka selalu eksis nanggepin isu apapun yang lagi happening di internet. Suatu hari, bergulir trending topic tentang seorang tentara yang bunuh diri. Forum internet pun ramai dengan komentar tentang kasus itu, mulai dari tanggapan simpati sampe tanggapan sinis. Salah satu akun dengan username @infernosister, tiba-tiba jadi target bullyingnetizen karena tweet-nya yang dianggap kelewatan tentang kasus itu. Akun ini gak tanggung-tanggung ngeledekin sang tentara yang udah jadi almarhum itu dengan menyuruhnya pergi ke neraka.


Ji Woong, Young Min dan teman-temannya yang tergabung dalam forum Mr. Babble pun gak mau ketinggalan. Mereka rame-rame ngeroyokin akun @infernosister dengan tweet bernada ejekan sampe ancaman. Terungkaplah bahwa akun itu adalah milik seorang cewek bernama Min Ha Young. Min bahkan nantangin forum Mr. Babble buat ngedatengin dia di apartemennya. 

Jadilah Ji Woong dkk ngedatengin tempat Min. Mereka bahkan menyiarkannya secara live streaminglewat sebuah forum video dengan penonton hampir 10.000 orang. Sialnya, di tengah siaran langsung ‘eksklusif’ itu, mereka justru mendapat ‘kejutan’ yang gak terduga dari Min. Min ditemukan udah mati tergantung di apartemennya. Kontan siaran langsung itupun berubah jadi petir di siang bolong buat Ji Woong dan teman-temannya.



Kasus ini langsung meledak dan jadi trending topic di internet. Semua orang yang terlibat di kejadian itu pun jadi sasaran kemarahan netizen, termasuk Ji Woong dan Young Min. Mereka dituding jadi penyebab bunuh dirinya Min Ha Young. Ji Woong dan Young Min bahkan terancam gagal jadi polisi karena ulah iseng mereka yang berbuah petaka itu.

Tapi mereka merasa ada sesuatu yang aneh dengan kematian Min. Mereka berpikir kalo Min sebenernya gak gantung diri, melainkan dibunuh. Terlebih melihat rekam jejak Min selama ini, banyak orang membenci Min yang dikenal sebagai ‘Pendekar Keyboard’ yang selalu kritis terhadap semua isu yang lagi hangat di internet. Petualangan forum Mr. Babble untuk mengungkap kebenaran pun dimulai. Apa yang bakal terjadi selanjutnya?


Review. Film ini mengangkat isu yang lagi kekinian banget soal kecanduan gadget dan cyber bullying. Digambarkan tiap orang gak bisa lepas dari gadgetnya dan terus tenggelam di dunia maya, mau gak mau kita harus mengamini itu. Banyak orang yang tampil garang bak singa kelaperan di internet, tapi di dunia nyata aslinya bagaikan tikus kecemplung oli, lengket dan gak berdaya :p Semua itu ditampilkan secara real di ‘Socialphobia’.


Film ini punya plot yang bisa dibilang ngebut banget. Semuanya tampil dengan spontan uhuy dan lumayan bikin gue geleng-geleng kepala di sepanjang film. Perjuangan menunggu subtitle pun lumayan bikin geleng-geleng juga :p Tapi di tengah film gue agak sedikit dibikin boring dengan konfliknya yang dibikin ruwet. Alurnya terlalu berusaha buat menggiring penonton menebak-nebak apa yang bakal terjadi kemudian, dengan pendalaman karakter yang pas-pasan. Gue sama sekali gak ngerasa kasihan dengan Min Ha Young yang mati konyol karena kata-katanya sendiri, juga dengan Ji Woong dan Young Min yang terjebak adengan situasi yang bisa dibilang gak main-main. Masih agak nanggung kalo mau dibilang sebagai film thriller atau misteri.


Satu pesan yang gue dapet dari film ini adalah ‘Thinking Before Posting’, karena ‘Gadgetmu adalah Harimaumu’, miaw. Oh ya, Byun Yo Han leh uga ya, ganteng miaw :p Ada yang udah nonton? Gimana menurutmu? Score 7/10.

Review Film Korea C’est Si Bon (2015) : Antara Mimpi, Cinta dan Persahabatan

Pernah punya dilema antara harus memilih orang yang kita sayang, sahabat, dan mimpi yang ingin kita capai? Itulah jalan cerita dari film C’est Si Bon. Film produksi CJ Entertainment ini berlatar waktu tahun 60-an, ketika musik rakyat masih digemari, jauh sebelum para oppa dalam formasi boyband eksis kayak sekarang


 Waktu itu penyanyi cowok dengan karakter vokal yang unik dan jago main gitar udah pasti jadi idola di kalangan cewek-cewek. Acara TV waktu itu belum banyak yang nayangin acara musik—kayak Music Bank kalo jaman sekarang—makanya tempat-tempat kayak klub atau music halljadi tempat yang paling gaul dan hits di jaman itu. Diceritakan ada sebuah klub musik yang suka menampilkan penyanyi pendatang baru dan lumayan populer di Seoul, yaitu klub C’est Si Bon. Di sanalah semua tokoh dalam film ini bertemu. Gimana alur ceritanya?



Sinopsis. Oh Geun Tae (Jung Woo), adalah seorang mahasiswa  berusia 20-an yang berasal dari keluarga nelayan, tiba-tiba harus bergabung dengan dua orang penyanyi berbakat untuk kemudian diorbitkan sebagai trio. Bakat Geun Tae ditemukan oleh Lee Jang Hee (Jang Hyun Suk), seorang produser dari klub music C’est Si Bon. Karakter vokal Geun Tae dianggap mampu melengkapi dua penyanyi yang sudah populer sebelumnya, Yoon Hyeong Joo (Kang Ha Neul) dan Song Chang Sik (Jo Bok Rae). Melihat potensi dari tiga orang penyanyi ini, Jang Hee bersama Direktur Kim, sang pemilik klub, sepakat buat ngorbitin mereka sebagai trio bernama C’est Si Bon.


Awalnya gak gampang buat menyatukan tiga kepala ini dalam satu grup. Mereka saling panggil dengan sebutan brengs*k, songong, dusun, dan macam-macam panggilan sayang lainnya.  Mereka bertiga gak pernah akur, terlebih Hyeong Joo dan Chang Sik yang sama-sama ngerasa paling berbakat dalam grup itu. Geun Tae yang punya skill pas-pasan dalam bermusik pun ngerasa minder, tapi sang produser, Jang Hee, berusaha buat ngajarin Geun Tae dari nol biar bisa ngimbangin Hyeong Joo dan Chang Sik yang udah pada jago main musik. Pelan-pelan Geun Tae pun mulai bisa berbaur, dan mereka bertiga juga udah bisa akur dan kompak dalam satu grup.



Konflik mulai muncul dengan hadirnya sosok wanita cantik bernama Min Ja Young (Han Hyo Joo). Ja Young adalah anggota grup teater yang juga suka manggung di klub C’est Si Bon. Udah bisa ditebak dong, Geun Tae, Hyeong Joo dan Chang Sik pun langsung naksir sama Ja Young. Mereka pun bersaing buat bisa dapetin Ja Young.  Melihat kepolosan dan ketulusan Geun Tae, Ja Young pun akhirnya memilih Geun Tae. Mereka pun mulai sering berduaan dalam segala hal, walaupun Ja Young sendiri gak pernah ngasih kepastian buat hubungan mereka.



Ja Young punya mimpi bisa jadi aktris terkenal, dia sering ikut main di teater besar walaupun cuma dapet peran-peran kecil. Geun Tae pun mendukung impian Ja Young. Apapun bakal dia lakukan buat bisa bikin Ja Young bahagia. Sampe suatu hari, ketika C’est Si Bon baru aja mau debut sebagai grup komersil, Geun Tae tiba-tiba aja mundur dari grup dikarenakan Ja Young. Gak punya pilihan lain, Hyeong Joo dan Chang Sik pun merubah nama mereka menjadi 'Twin Folio'. 

Tanpa terduga ternyata Twin Folio pun sukses hanya dalam jangka waktu satu tahun pasca debut. Tapi kejayaan mereka ternyata gak berlangsung lama. Tiba-tiba mereka dibubarkan karena isu narkoba. C’est Si Bon dan Twin Folio pun sekarang cuma tinggal kenangan. 40 tahun kemudian terungkap, ternyata Ja Young juga lah yang jadi dalang dibalik bubarnya Twin Folio. Apa sih yang udah dilakuin Ja Young? Sehebat apa sih cewek ini sampe bisa bikin satu grup yang lagi populer tiba-tiba bubar?



Review. Awalnya gue agak dibikin boring di menit-menit awal film ini. Gue belum mudeng dengan tren music hall di tahun 60-an yang diangkat di film ini. Tapi gue masih dibikin penasaran dengan tokoh-tokohnya. Pembangunan karakter di film ini bisa dibilang ngebut tapi pas. Penonton bakal langsung get in dengan karakter tiap tokohnya. Hyeong Joo, si cowok flamboyan yang rada songong karena ngerasa paling populer di C’est Si Bon yang juga seorang mahasiswa kedokteran. Ada juga Chang Sik, si dekil yang awut-awutan tapi ternyata punya suara yang bagus, dan Geun Tae, mahasiswa biasa yang juga punya suara biasa aja tapi punya pesona tersendiri dengan kepolosan dan ketulusan hatinya.



Kehadiran Ja Young sebagai bahan rebutan di antara tiga cowok gak begitu menonjol, karena semuanya selesai waktu Geun Tae berhasil dapetin Ja Young. Klimaksnya juga gak begitu epic, dilihat dari latar waktu 60-an dengan segala keunikannya itu, gue berharap C’est Si Bon bisa ngasih sesuatu yang wow di akhir ceritanya. Bahkan wajah Hyeong Joo dan Chang Sik sama sekali gak ditampilin di akhir cerita, mungkin maksudnya biar misterius dikit kali ya. Alurnya juga agak bikin bingung, kenapa tiba-tiba Twin Folio bisa ditahan sama polisi gara-gara ganja, dan kenapa Geun Tae bisa ‘bersaksi’ tentang teman-temannya yang suka nyimeng. Semuanya jadi ‘menumpuk’ di akhir film. Mungkin maksudnya mau dibikin semacam twist, padahal kalo gue bilang, penonton udah bisa nebak kok tanpa harus dibikin twist.



Justru setting 60-an nya lah yang bikin film ini jadi menarik, mulai dari lagu-lagunya, fashion, sampe peraturan pemerintah tentang jam malam dan larangan pake rok mini. Geun Tae bahkan rela pake rok mini di jalanan buat nyelametin Ja Young dari razia Satpol PP :p Sosok Geun Tae yang ternyata jadi pengkhianat teman-temannya juga gak berhasil bikin gue simpati sama dia sebagai tokoh utama. Gue malah terkesan sama tokoh Hyeong Joo yang dengan caranya bisa tetep nerusin passion-nya menyanyi, padahal ayahnya lebih ngedukung dia buat jadi dokter. hyeong Joo juga bisa meredam egonya waktu produser minta dia buat gabung dalam satu grup trio. Ja Young cantik banget ya, semua baju yang dia pake gue jadi pengen punya juga :p


Kebanyakan spoiler gak nih? Udah deh nonton aja. Buat kamu yang suka sama film Sunny gue rekomendasiin film ini, dengan catatan jangan terlalu berharap banyak film ini bisa nyamain charm-nya Sunny. Cukup menghibur, sayang banget eksekusinya agak ngegantung. Score 7/10.